4. Gambar Kambing | Aku Manusia, Anak Manusia

Bab 4. Gambar Kambing

Pak Guru pandai menggambar. Ketika mengajar pelajaran menggambar, dia menggambar bunga, kambing, cangkir, gelas, dan apa saja di papan tulis. Semua siswa harus menyalin gambar di papan tulis itu. Aku suka melakukannya. Menyalin gambar Pak Guru lebih menyenangkan daripada menyalin tulisannya. Aku tidak suka menyalin barisan huruf-huruf yang ditulis Pak Guru di papan tulis. Membosankan lagi kalau harus melipat tangan di meja dan mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku heran melihat teman-temanku, mereka kuat bertahan diam dengan tangan terlipat di atas meja. Aku yakin mereka sebenarnya bosan tetapi mereka takut Pak Guru marah atau memanggil ibu mereka, yang menunggu di teras kelas, juga untuk memarahi mereka. Ibu-ibu mereka selalu percaya kepada Pak Guru ketika Pak Guru bilang mereka tidak mau mendengarkannya bicara, lantas ibu-ibu itu memarahi anak mereka sendiri. 

Aku tidak takut dengan ibu. Kalau ibu menyuruhku diam aku akan menjerit keras-keras dan ibu pasti menangis. Ibu selalu seperti itu. Ibu tidak berani melanggar pesan ayah. Ketika akan pergi jauh aku mendengar ayah berpesan kepada ibu. Kata ayah, aku tidak boleh dimarahi, ibu harus menyayangi aku. Sebenarnya aku juga sangat menyayangi ibu meskipun ibu sering aku buat menangis. Aku juga tidak takut dengan Pak Guru meskipun pegangan tangannya di lenganku sangat keras dan terasa sakit. Aku juga akan menjerit keras-keras kalau pegangan menyakitkan itu tidak segera dilepaskan dari lenganku dan Pak Guru akan melepaskan pegangannya.


Gambarku tidak sebagus gambar Pak Guru di papan tulis. Aku ingin Pak Guru menggambar di bukuku. Ketika Pak Guru duduk di kursi kosong di sampingku, menunggui aku supaya tidak kemana-mana dan tidak mengganggu teman-temanku, aku suruh Pak Guru menggambar di bukuku. Dia mau. Dia menggambar dengan cepat dan sebentar saja gambar sudah jadi.



Aku senang Pak Guru menggambar di bukuku. Kadang aku suruh dia menggambar untukku meskipun bukan waktunya pelajaran menggambar. Kadang aku suruh dia menggambar di sampul belakang buku tulis, kadang di halaman terakhir, kadang di halaman tengah, kadang di halaman baliknya sampul depan. Aku diam dan tidak mengganggu temanku bila Pak Guru menggambar di bukuku. Dan Pak Guru senang melihat aku tenang di tempat dudukku sehingga dia selalu mau aku suruh menggambar untukku. Tapi Pak Guru selalu menolak bila aku suruh dia menggambar di kursi atau meja. Dia hanya mau menggambar di buku, buku gambar maupun buku tulisku.
Baca Juga:
Aku minta digambarkan kambing, dengan cepat satu ekor kambing sudah terbentuk di buku tulisku. Gambar kambing itu kecil. “Mungkin ini anak kambing.” Kataku dalam hati

“Orang tuanya mana, Pak Guru?” tanyaku.
Dengan cepat dia menggambar kambing yang lebih besar dengan kepala bertanduk, mungkin ini bapak kambing kecil tadi.

“Ibunya mana, Pak Guru?” tanyaku lagi.

Sebentar saja sudah ada tiga kambing di buku tulisku.

“Teman-temannya mana, Pak Guru?”

Satu halaman buku tulisku penuh dengan gambar kambing. Aku suka.

“Sekarang gantian kamu yang menggambar kambing, Ozi.” Kata Pak Guru. “Kamu tiru gambar keluarga kambing dan teman-temannya ini di halaman lain di bukumu!”

Karena menggambarku tidak secepat Pak Guru, sampai jam istirahat tiba aku belum selesai menggambar dan tetap diam, tenang di bangkuku, dan tidak menggangu teman-temanku.

Pak Guru baik, sekarang tidak pernah memegang lenganku kuat-kuat sampai terasa sakit. Bila aku mulai bertingkah dan mengganggu teman-temanku, dia menggambar di bukuku dan menyuruhku meniru gambarnya.
***

Ketika jam istirahat, aku lihat tas Pak Guru ditinggal di meja. Aku buka ritsletingnya.
“Ozi, mau kau apakan tas Pak Guru?” tiba-tiba ibuku masuk dan tahu aku membuka ritsleting tas Pak Guru.

Ibu menghampiriku, menarik, dan menjauhkan aku dari meja Pak Guru. Aku melawan. Aku pegangi kaki meja sekuat yang aku mampu.

“Ozi, ayo keluar! Sekarang waktunya istirahat,” ibu mengomel. “Jangan pegang tas Pak Guru, kalau ada barang Pak Guru yang hilang, nanti kamu dimarahi.” Ibu terus mengomel dan berusaha melepaskanku dari kaki meja.

Aku mengeluarkan mainan pesawat plastik kecil warna kuning dari kantong bajuku dengan tangan kiriku karena tangan kananku masih memegangi kaki meja. “Aku mau memberikan ini kepada Pak Guru, ibu.”

Ibu diam, berhenti mengomel, dan tarikan tangannya melemah. Dia memandangi aku dengan mata berkaca-kaca.

“Pak Guru baik, ibu. Tadi dia menggambarkan aku banyak kambing di buku tulisku. Aku ingin memberikan pesawat ini kepadanya,” kataku.

Aku yakin Pak Guru suka pesawat ini. Kalau Pak Guru sampai di rumah, membuka tasnya dan menemukan pesawat ini, pesawat ini pasti dibuat main Pak Guru bersama teman-temannya. Atau mungkin dipakai main bersama guru-guru lain bila tasnya dibuka di ruang guru.
***
Baca Juga:

Baca Juga:
Previous Post
Next Post

0 komentar: